Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi pada triwulan III 2026. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edhy Mahmud, menyampaikan bahwa konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Pertumbuhan tersebut melampaui sejumlah komponen pengeluaran lainnya, seperti impor sebesar 7,31 persen, investasi atau PMTB 6,06 persen, konsumsi rumah tangga 5,04 persen, konsumsi LNPRT 5,02 persen, dan ekspor 4,59 persen.
Edhy menjelaskan, peningkatan konsumsi pemerintah didorong oleh naiknya realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa. Kenaikan belanja pegawai terutama berasal dari pembayaran gaji dan tunjangan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS. Sementara itu, peningkatan belanja barang dan jasa dipengaruhi oleh pengeluaran untuk barang yang diserahkan langsung kepada masyarakat, termasuk pendanaan sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada triwulan III 2026, konsumsi pemerintah memiliki porsi sebesar 7,28 persen terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Komponen ini juga memberikan kontribusi sebesar 0,62 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen secara tahunan. Data tersebut menunjukkan bahwa realisasi belanja pemerintah, terutama pembayaran gaji dan tunjangan ASN serta pelaksanaan program MBG, turut menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2026. Dikutip dari Suara.com
