Ekonomi

CORE Indonesia: Ekonomi Tumbuh 5 Persen, Daya Beli Kelas Menengah Stagnan Sejak 2018

CORE Indonesia: Ekonomi Tumbuh 5 Persen, Daya Beli Kelas Menengah Stagnan Sejak 2018

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen ternyata belum diikuti peningkatan daya beli pekerja kelas menengah. Ekonom CORE Indonesia mencatat, rata-rata upah buruh secara nominal meningkat sekitar 24 persen sejak 2018. Namun, setelah disesuaikan dengan inflasi, upah riil justru cenderung stagnan selama delapan tahun terakhir. Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan kenaikan gaji pekerja belum mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup. Akibatnya, daya beli masyarakat saat ini relatif tidak jauh berbeda dibandingkan kondisi pada 2018. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2026 di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Stagnasi upah riil juga berdampak pada pekerja muda yang baru memasuki dunia kerja. Berdasarkan data CORE Indonesia, rata-rata upah pekerja usia 20–24 tahun hanya sekitar Rp2,67 juta per bulan, lebih rendah dibandingkan rata-rata upah nasional sebesar Rp3,3 juta. Kondisi tersebut membuat generasi muda menghadapi tekanan finansial di tengah meningkatnya kebutuhan hidup. Banyak pekerja akhirnya mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan atau side hustle untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Yusuf, persoalan upah dan daya beli turut memengaruhi keputusan penting generasi muda, termasuk rencana menikah dan membeli rumah. Ia mengungkapkan, satu dari dua generasi Z dan milenial menunda keputusan besar akibat keterbatasan finansial. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya dirasakan oleh pekerja, terutama kelompok usia muda dan kelas menengah. Karena itu, peningkatan upah riil dan pengendalian biaya hidup menjadi tantangan penting untuk memperkuat daya beli masyarakat. Dikutip dari Suara.com