Ekonomi

Ekonom: Indonesia Perlu Kebijakan Progresif Bangun Pendanaan Non-Dolar AS

Ekonom: Indonesia Perlu Kebijakan Progresif Bangun Pendanaan Non-Dolar AS

Jakarta – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa Indonesia perlu mengadopsi kebijakan progresif dan presisi untuk membangun arsitektur pendanaan alternatif di luar ketergantungan pada dolar AS. Menurutnya, keterbatasan suplai dolar global akibat pengetatan likuiditas dan kebutuhan domestik Amerika Serikat menuntut RI untuk mempercepat skema Local Currency Transaction (LCT) dan mengeksplorasi mata uang dengan biaya dana lebih rendah seperti CNH (Offshore Renminbi). Strategi ini dianggap krusial agar Indonesia tidak lagi sekadar menjadi price taker, melainkan mampu menjadi arsitek sumber pendanaannya sendiri dalam sistem keuangan global yang kian dinamis.

Fakhrul menilai tantangan struktural saat ini belum sepenuhnya terjawab oleh kerangka lama yang ditawarkan institusi global seperti IMF dan Bank Dunia. Munculnya fragmentasi global merupakan fase transisi menuju sistem multipolar, di mana akses likuiditas akan sangat ditentukan oleh kekuatan jaringan bilateral dan regional. Indonesia didorong untuk melakukan diversifikasi basis investor dan pendalaman pasar keuangan domestik berbasis rupiah, terutama untuk instrumen jangka panjang. Diversifikasi ke arah pembiayaan CNH dipandang sebagai peluang strategis untuk menyeimbangkan ketidakseimbangan likuiditas sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.

Lebih lanjut, otoritas terkait diminta untuk menyampaikan arah kebijakan secara eksplisit demi menjaga kepercayaan pasar di tengah perubahan struktur ekonomi dunia. Fakhrul memperingatkan bahwa tanpa komunikasi strategi yang jelas mengenai adaptasi terhadap fragmentasi global, Indonesia berisiko kehilangan momentum pertumbuhan. Efisiensi biaya dana melalui penggunaan mata uang alternatif dan fleksibilitas kebijakan menjadi kunci utama agar masa depan struktur perekonomian nasional tetap kompetitif dan tahan terhadap guncangan eksternal di masa depan. Dikutip dari Antaranews.com