Jakarta – Pengamat politik Ayip Tayana menyayangkan pembubaran diskusi yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang dialog yang terbuka bagi semua pihak. Menurutnya, lingkungan akademik memiliki peran penting sebagai tempat pertukaran gagasan, pengujian argumentasi, serta penyampaian kritik secara konstruktif. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pembubaran forum diskusi yang menghadirkan sejumlah pejabat negara, yakni Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Ayip menilai kehadiran para pejabat pemerintah di kampus merupakan langkah positif bagi demokrasi karena membuka ruang interaksi langsung dengan mahasiswa. Ia mengatakan mahasiswa berhak mengajukan pertanyaan kritis dan menyampaikan aspirasi, sementara pejabat publik juga perlu diberikan kesempatan untuk menjelaskan kebijakan serta pandangannya. Menurutnya, forum dialog semacam ini seharusnya menjadi sarana pertukaran ide yang sehat, bukan berubah menjadi ruang penghakiman yang menghambat komunikasi antara pemerintah dan kalangan akademisi.
Lebih lanjut, Ayip mendorong agar diskusi antara pejabat publik dan mahasiswa semakin sering dilakukan guna memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia. Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam berdialog agar kritik dapat disampaikan secara efektif dan kebijakan pemerintah dapat diuji melalui argumentasi yang rasional. Menurutnya, kampus harus tetap menjadi ruang demokratis yang mendorong keterbukaan, kebebasan akademik, serta lahirnya solusi atas berbagai persoalan bangsa melalui dialog yang jujur, terbuka, dan beradab. Dikutip dari Antaranews.com
