Ekonomi

Harga Energi Melonjak, Perusahaan Logistik Putar Otak Tekan Biaya Operasional

Harga Energi Melonjak, Perusahaan Logistik Putar Otak Tekan Biaya Operasional

JAKARTA – Ketua Dewan Riset Supply Chain dan Logistik ALI, Nofrisel, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi akibat konflik Timur Tengah memaksa pelaku industri logistik melakukan evaluasi ulang terhadap struktur biaya operasional. Mengingat komponen BBM berkontribusi hingga 40 persen terhadap total biaya transportasi darat, lonjakan harga energi secara global ini langsung memberikan tekanan besar pada beban distribusi barang. Kondisi tersebut kini menggerus margin keuntungan perusahaan, sehingga langkah strategis diperlukan untuk menjaga stabilitas usaha di tengah ketidakpastian pasar.

Dalam jangka pendek, para pelaku usaha logistik memprioritaskan efisiensi operasional guna menekan biaya perjalanan harian yang membengkak. Salah satu strategi yang diterapkan adalah dengan mengurangi jumlah armada yang beroperasi secara selektif tanpa mengurangi kualitas layanan distribusi. Sebagai contoh, perusahaan yang biasanya mengoperasikan lima truk kini mulai melakukan konsolidasi muatan sehingga penggunaan armada dapat dikurangi satu hingga dua unit. Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan neraca keuangan perusahaan di tengah melambungnya biaya energi nasional.

Selain melakukan efisiensi internal, Nofrisel menekankan pentingnya ruang negosiasi tarif antara penyedia jasa logistik dengan pemilik barang. Penyesuaian tarif dinilai sebagai langkah yang adil untuk memastikan kelangsungan ekosistem logistik, di mana pemilik barang umumnya terbuka terhadap kondisi pasar yang dinamis saat ini. Untuk jangka panjang, industri logistik didorong untuk mulai beralih ke penggunaan energi alternatif guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus mendukung terciptanya sistem transportasi nasional yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap gejolak global. Dikutip dari RRI.co.id