Nasional

Pemerhati Bahas Fenomena Perundungan dan Ragam Bentuknya

Pemerhati Bahas Fenomena Perundungan dan Ragam Bentuknya

Jakarta – Penulis buku sekaligus pemerhati isu perundungan anak, Waitatiri, menekankan pentingnya upaya bersama untuk mengatasi praktik perundungan atau bullying. Menurutnya, kasus perundungan semakin parah karena masih banyak orang yang menormalisasikannya.

Ia menjelaskan, perundungan kini berkembang dalam berbagai bentuk, termasuk silent bullying yang tersebar melalui media sosial dan gadget anak-anak. Anak-anak lebih rentan menjadi korban karena paparan informasi digital yang cepat dan luas. Perundungan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga online bahkan dari orang yang tidak dikenal.

Wai menekankan, pencegahan perundungan membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Anak-anak yang bercerita perlu didengarkan dengan utuh, tanpa menyalahkan dan memberi solusi instan.

Penelaah Teknis Kebijakan Kemendikdasmen, Puput Mutiara, menjelaskan berbagai strategi pencegahan perundungan di sekolah. Salah satunya adalah Program Sahabat Hebat, di mana siswa menjadi teman sebaya yang mendukung korban dan melaporkan kekerasan kepada guru. Selain itu, ada Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mengajarkan anak-anak disiplin, olahraga, ibadah, belajar, bermasyarakat, makan sehat, dan tidur tepat waktu, untuk membentuk karakter kuat dan mengurangi kecenderungan melakukan kekerasan. Dikutip dari RRI.co.id