Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil menunjukkan taji dengan berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 31 Maret 2026. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terapresiasi 0,09 persen ke level Rp16.986 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.002 pada penutupan Senin (30/3). Analis Pasar Uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, berharap kurs referensi JISDOR Bank Indonesia dapat menguat menuju level Rp16.960 seiring dengan mulai munculnya tren penurunan ketergantungan global terhadap dolar AS.
Meskipun mulai pulih, pergerakan rupiah diprediksi masih akan fluktuatif akibat sentimen global yang tidak menentu. Pelaku pasar saat ini fokus pada ketidakjelasan konflik antara AS dan Iran, terutama terkait klaim pembicaraan konstruktif Presiden Donald Trump yang masih diragukan kredibilitasnya. Selain itu, penutupan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz oleh Iran turut memicu kekhawatiran pasar, meski di sisi lain terdapat sentimen positif dari penurunan imbal hasil surat berharga negara secara global yang dapat mendukung penguatan aset domestik.
Dari sisi internal, stabilitas nilai tukar rupiah kini sangat bergantung pada langkah intervensi Bank Indonesia (BI) di tengah risiko defisit fiskal yang masih tinggi. Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak Brent hingga USD115 per barel menjadi ancaman nyata yang bisa memicu inflasi dan membengkaknya beban subsidi energi. Kondisi ini membuat para investor tetap berada dalam mode hati-hati (cautious) terhadap aset-aset keuangan Indonesia hingga stabilitas pasar valas benar-benar teruji. Dikutip dari RRI.co.id
