Jakarta – Mengonsumsi air sering kali dianggap sebagai kunci utama kesehatan, namun para ahli mengingatkan bahwa asupan air yang berlebihan justru dapat membebani kinerja ginjal. Dr. Udit Gupta, seorang konsultan nefrologi dari ISIC Multispeciality Hospital, menjelaskan bahwa kebutuhan cairan setiap individu bersifat personal dan tidak universal. Faktor seperti berat badan, tingkat aktivitas, iklim, hingga kondisi kesehatan secara keseluruhan sangat menentukan berapa banyak air yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh agar fungsi filtrasi ginjal tetap optimal tanpa risiko overhidrasi.
Kondisi asupan air yang berlebih dapat memicu hiponatremia, yaitu kondisi berbahaya di mana kadar natrium dalam darah menjadi terlalu encer. Dr. Gupta menekankan bahwa bagi orang dewasa sehat, target utamanya bukan sekadar jumlah gelas yang diminum, melainkan konsistensi hidrasi untuk mendukung produksi urine normal sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari. Ginjal manusia dirancang untuk bekerja sangat efisien dalam rentang asupan cairan yang luas, sehingga minum melebihi rasa haus secara ekstrem tidak selalu berkontribusi pada peningkatan fungsi ginjal.
Sebagai panduan praktis, warna urine dapat menjadi indikator kecukupan hidrasi yang lebih akurat daripada sekadar mengandalkan rasa haus. Urine berwarna kuning pucat menandakan hidrasi yang cukup, sementara urine yang benar-benar bening justru bisa menjadi sinyal overhidrasi. Di sisi lain, urine kuning pekat merupakan tanda dehidrasi yang harus segera diatasi. Meskipun rata-rata orang dewasa membutuhkan 2 hingga 3 liter cairan per hari, kelompok dengan kondisi medis khusus seperti penderita gangguan jantung atau penyakit ginjal kronis wajib mengikuti saran dokter terkait batasan asupan cairan harian mereka. Dikutip dari Antaranews.com
