Jakarta – Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit UMKM di Indonesia sangat bergantung pada performa tiga sektor utama: perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan. Ketiga sektor ini mendominasi sekitar 75 persen dari total penyaluran kredit UMKM nasional. Namun, Andry mencatat adanya tantangan pada sektor pertanian yang pertumbuhannya masih tertinggal di angka 2,4 persen dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya, sulit untuk mendorong kredit UMKM tumbuh lebih agresif jika sektor-sektor penopang PDB ini tidak menunjukkan penguatan yang konsisten.
Tim ekonom Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan tahun ini berada di kisaran 9 hingga 11 persen, sementara kredit UMKM diperkirakan tumbuh di level 4 sampai 5 persen. Meskipun rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan diprediksi sedikit menurun ke angka 17 persen, peluang ekspansi tetap terbuka lebar. Salah satu pendorong utamanya adalah program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi menciptakan rantai nilai baru bagi pelaku usaha mikro serta meningkatkan permintaan kredit konsumsi maupun modal kerja.
Guna mengantisipasi tantangan risiko, perbankan kini fokus pada strategi integrasi ekosistem untuk memastikan keberadaan pembeli siaga atau off-taker yang jelas bagi UMKM. SVP Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, Bayu Trisno Arief Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya sukses menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM di bawah 1,5 persen dengan memanfaatkan basis nasabah korporasi. Dengan menyalurkan pembiayaan kepada UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok korporasi besar, akses pembiayaan menjadi lebih aman dan berkelanjutan bagi perbankan maupun pelaku usaha. Dikutip dari Antaranews.com
