JAKARTA – Fenomena fake rich atau kekayaan palsu kian marak menghiasi lini masa media sosial, menjadi tren yang memicu diskusi hangat mengenai kesehatan mental dan finansial. Fenomena ini merujuk pada perilaku individu yang secara sengaja menampilkan gaya hidup mewah demi membangun citra “sultan” di internet, meskipun realita kondisi keuangannya tidak sejalan. Melalui konten visual berupa barang branded, liburan eksklusif, hingga pamer saldo rekening, para pelakunya berupaya mengejar validasi sosial meskipun harus terjebak dalam lingkaran utang konsumtif atau ketergantungan pada fitur paylater.
Tren ini sering kali dipicu oleh rendahnya literasi keuangan dan adanya demonstration effect, yaitu dorongan kuat untuk meniru gaya hidup kelas atas yang mereka lihat di layar ponsel. Tidak sedikit orang yang akhirnya terjebak dalam lifestyle inflation, di mana kenaikan standar gaya hidup jauh melampaui pertumbuhan pendapatan asli. Selain mengejar likes dan komentar, beberapa individu bahkan nekat membangun persona sebagai influencer sukses atau pakar investasi gadungan untuk menutupi ketidakstabilan ekonomi mereka, sebuah kondisi yang sering disebut sebagai ghost rich.
Ada beberapa ciri menonjol yang dapat dikenali dari fenomena ini. Pertama, fokus utama konten adalah pengakuan publik melalui simbol kemewahan yang berlebihan. Kedua, terdapat ketidakjelasan aset atau sumber kekayaan yang sah secara administratif. Ketiga, penggunaan fasilitas kredit yang tidak sehat hanya demi mempertahankan gengsi di mata warganet. Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya dana darurat dan investasi jangka panjang membuat banyak orang lebih memilih terlihat kaya secara visual daripada memiliki keamanan finansial yang nyata di kehidupan asli.
Menanggapi maraknya fenomena ini, para pakar menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan bagi generasi digital. Memahami risiko utang konsumtif dan belajar mengelola pengeluaran sesuai kemampuan adalah kunci utama untuk terhindar dari tekanan sosial flexing. Dengan memprioritaskan tabungan dan investasi daripada sekadar konten mewah, seseorang dapat membangun pondasi ekonomi yang lebih kokoh dan sehat. Pada akhirnya, kekayaan yang sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyak likes yang didapat, melainkan dari kestabilan finansial dan ketenangan pikiran di masa depan. Dikutip dari Okezone.com
