Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin (9/3/2026) dengan pelemahan signifikan. IHSG dibuka anjlok 211,38 poin atau sekitar 2,79 persen ke posisi 7.374,31, mengekor tren negatif bursa saham di kawasan Asia. Sentimen utama yang menekan pasar modal adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak global secara drastis, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas fiskal nasional.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah penunjukan pemimpin baru di Iran yang dikenal dekat dengan kelompok hardliner, memperkuat ekspektasi bahwa konflik dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan segera mereda. Kondisi ini diperparah dengan gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak mentah jenis WTI melambung 20,81 persen ke level 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil naik 18,17 persen ke posisi 109,53 dolar AS per barel. Tingginya harga energi ini memaksa investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan aset berisiko termasuk saham.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperingatkan investor untuk meningkatkan sikap wait and see mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi sepekan ke depan. Selain faktor geopolitik, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi (CPI) Amerika Serikat bulan Februari 2026 yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Dari dalam negeri, pemerintah mulai mensimulasikan dampak lonjakan harga minyak terhadap APBN, di mana defisit berisiko melebar hingga 3,7 persen jika harga minyak rata-rata bertahan di level tinggi tanpa adanya penyesuaian kebijakan fiskal. Dikutip dari Antaranews.com
