JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, tertekan oleh rilis data ekonomi global yang solid. Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 98 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.916 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.818 per dolar AS. Pelemahan ini juga terlihat dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turut merosot ke level Rp17.893 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa tekanan utama rupiah berasal dari pertumbuhan kuat Purchasing Managers’ Index (PMI) AS. Data Flash PMI AS menunjukkan aktivitas bisnis melonjak dengan Composite PMI naik ke level 58,4—tertinggi sejak Juli 2021. Kondisi ini membuat dolar AS kembali perkasa karena ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang tetap ketat.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) terus berupaya meredam gejolak lanjutan dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen serta mengoptimalkan instrumen moneter. Ketahanan eksternal rupiah juga ditopang oleh posisi cadangan devisa nasional yang masih kuat di kisaran 146,5 miliar dolar AS, sehingga diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global. Dikutip dari Antaranews.com
