Jakarta – Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax akan mengalami penurunan bertahap dari Rp16.250 per liter pada Juni, menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026. Menurutnya, ruang penurunan harga BBM nonsubsidi masih terbuka seiring tren penurunan pada beberapa jenis BBM lain seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
“Ruang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka. Dexlite dan Pertamina Dex sudah turun,” ujar Yayan ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa harga Pertamax diperkirakan turun secara bertahap, mulai dari Rp15.228 per liter pada Juli hingga Rp13.479 per liter pada Desember 2026, dengan penyesuaian bulanan yang mencerminkan dinamika pasar energi global.
Yayan menambahkan, proyeksi tersebut dipengaruhi asumsi penurunan Indonesian Crude Price (ICP) menuju level 90,6 dolar AS per barel pada akhir 2026 serta penguatan nilai tukar rupiah dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 per dolar AS. Ia juga menyoroti ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi harga minyak dunia, termasuk fluktuasi akibat konflik di Timur Tengah, sehingga pemerintah dinilai perlu menyiapkan berbagai skenario kebijakan fiskal untuk mengantisipasi risiko tersebut. Dikutip dari Antaranews.com
