Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dari tekanan dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (21/11/2025). Mengacu pada data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 0,13 persen atau 21 poin menjadi Rp16.715 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Kamis (20/11/2025), rupiah mengalami pelemahan 0,17 persen atau 28 poin ke level Rp16.736 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun ke 100,14 dari posisi sehari sebelumnya 100,21, menunjukkan pelemahan tipis mata uang AS.
Namun, analis pasar uang Lukman Leong memperingatkan bahwa rupiah masih berisiko melemah hingga penutupan perdagangan hari ini. “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS setelah rilis data ekonomi AS,” ujar Lukman, Jumat (21/11/2025).
Pelemahan ini diperkirakan dipicu oleh data non-farm payrolls AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Data menunjukkan kenaikan 119.000 pekerjaan, melampaui ekspektasi 53.000. Namun, tingkat pengangguran AS naik ke 4,4 persen dan rata-rata upah harian turun 0,2 persen, menciptakan sentimen pasar yang campur aduk.
Meski demikian, Lukman menilai pelemahan rupiah akan terbatas karena adanya dukungan dari data neraca transaksi berjalan Indonesia yang mencatat surplus signifikan. Menurut data Bank Indonesia, pada triwulan III 2025, transaksi berjalan surplus sebesar USD 4 miliar, setara 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelumnya, pada triwulan II 2025, transaksi berjalan tercatat defisit USD 2,7 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh neraca perdagangan barang yang meningkat, khususnya perdagangan nonmigas.
Selain faktor domestik, ketegangan antara Tiongkok dan Jepang juga disebut Lukman dapat mempengaruhi sentimen pasar. Ia memproyeksikan, “Hari ini rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.650–16.800 per dolar AS.” Dikutip dari RRI.co.id
