Daerah

Rapat Paparan Anev Kegiatan 2025 dan Rencana Kegiatan 2026: Penguatan Sinergi Keselamatan Lalu Lintas dan Transportasi di Jawa Timur

Rapat Paparan Anev Kegiatan 2025 dan Rencana Kegiatan 2026: Penguatan Sinergi Keselamatan Lalu Lintas dan Transportasi di Jawa Timur

Surabaya – Bertempat di Ruang Rapat Jasa Raharja Kanwil Utama Jawa Timur, Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ) Jawa Timur menyelenggarakan Rapat Paparan Analisis dan Evaluasi (Anev) Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kegiatan Tahun 2026 pada Kamis, 15 Januari 2026. Rapat ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja keselamatan lalu lintas sepanjang tahun 2025 serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penyusunan program keselamatan transportasi tahun 2026 di wilayah Jawa Timur.

Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Iwan Saktiadi, S.I.K., M.H., M.Si., memaparkan data kecelakaan lalu lintas Provinsi Jawa Timur tahun 2025 yang dibandingkan dengan tahun 2024. Secara umum, jumlah kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan sebesar 4 persen, korban luka berat turun signifikan sebesar 48 persen, dan korban luka ringan menurun 4 persen. Namun demikian, korban meninggal dunia tercatat mengalami peningkatan sebesar 21 persen. Kondisi ini menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan.

Disampaikan pula bahwa penempatan petugas patroli pada jam rawan kecelakaan berbasis data terbukti mampu menekan angka kecelakaan. Sepeda motor dan kelompok usia produktif masih mendominasi keterlibatan dalam kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2025. Selain itu, pada tahun 2026 akan dilakukan konsentrasi khusus terhadap kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api dengan memperjelas kewenangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat meningkat sebesar 2,56 persen. Untuk merespons dinamika tersebut, Ditlantas Polda Jawa Timur telah melaksanakan berbagai inovasi, antara lain Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), ETLE Mobile On Board, Mahameru Quick Response (MQR), Teguran Presisi, hingga program Polantas Menyapa melalui kegiatan “Cangkrukan Bareng Cak Iwan”.

PT Jasa Raharja Kantor Wilayah Utama Jawa Timur melaporkan bahwa terdapat 90 titik rawan kecelakaan yang menjadi fokus penanganan, atau sekitar 13,51 persen dari total kecamatan di Jawa Timur. Di titik-titik tersebut terjadi lebih dari 31 persen total korban kecelakaan di Jawa Timur. Berbagai action plan keselamatan transportasi telah dilaksanakan, antara lain pelatihan pertolongan pertama gawat darurat, sosialisasi keselamatan lalu lintas, pengiriman SMS blast di titik rawan kecelakaan, pemasangan perlengkapan keselamatan, hingga operasi gabungan lintas sektor.

Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur memaparkan inovasi pengadaan perlengkapan jalan berbasis teknologi terbaru, seperti sensor adaptif APILL, kamera pengenal pelat nomor, traffic counting, hingga sistem informasi lalu lintas. Program kerja utama tahun 2026 difokuskan pada penetapan Rencana Induk Jaringan LLAJ, penyediaan dan pemeliharaan perlengkapan jalan, manajemen dan rekayasa lalu lintas, serta peningkatan kualitas penilaian dan pengawasan Andalalin.

Dalam forum ini juga dibahas rekomendasi Keselamatan Nasional terkait kecelakaan di kawasan wisata Taman Nasional Bromo, khususnya perlunya pemetaan rute kendaraan, penegasan batas akhir parkir bus, serta pengaturan kendaraan besar di kawasan wisata.

Sejumlah isu strategis lainnya turut dibahas, antara lain penanganan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), penguatan sistem logistik nasional, perhatian terhadap ruas dan tikungan rawan kecelakaan, serta rencana peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur jalan dan jembatan di berbagai wilayah Jawa Timur.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam penguatan sistem rujukan gawat darurat melalui penguatan PSC 119, revisi regulasi sistem rujukan, serta keberlanjutan kerja sama Radiomedik SPGDT dengan Polda Jawa Timur. Strategi tahun 2026 diarahkan pada finalisasi Pergub Sistem Rujukan, kepastian legal-operasional layanan kegawatdaruratan, dan penguatan layanan PSC 119 kabupaten/kota secara berkelanjutan.

Sebagai kesimpulan, seluruh stakeholder yang tergabung dalam FLLAJ Jawa Timur berkomitmen untuk:

  1. Berbagi dan menyinkronkan data kecelakaan sebagai dasar perencanaan program keselamatan transportasi;
  2. Memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan kecelakaan lalu lintas, khususnya yang menimbulkan korban jiwa;
  3. Melaksanakan Rapat FLLAJ secara rutin dan berkelanjutan;
  4. Mengawal usulan pemanfaatan teknologi, termasuk notifikasi titik rawan kecelakaan pada aplikasi navigasi;
  5. Melibatkan mitra strategis lainnya, seperti Dinas Perindustrian dan Dinas Pendidikan, dalam upaya peningkatan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.

Melalui sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, FLLAJ Jawa Timur optimistis upaya penurunan angka kecelakaan dan fatalitas lalu lintas dapat terus ditingkatkan pada tahun 2026 dan seterusnya.