Politik

Muktamar ke-35 NU: Harapan Baru Bagi Nahdliyin dan Arah Masa Depan Organisasi

Muktamar ke-35 NU: Harapan Baru Bagi Nahdliyin dan Arah Masa Depan Organisasi

Jakarta — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang direncanakan berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 2026 bertepatan dengan satu abad berdirinya NU, harapan baru dari warga Nahdliyin semakin menguat. Muktamar kali ini dipandang sebagai momentum penting untuk menentukan arah masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Setelah melalui berbagai dinamika dan tantangan dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan untuk memilih pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga memiliki visi strategis bagi NU, menjadi semakin mendesak. Muktamar ke-35 bukan sekadar ajang kontestasi, melainkan arena untuk merumuskan kembali karakter kepemimpinan NU di tengah medan sosial, politik, dan kultural yang terus berkembang.

Tiga Figur yang Mencuat Menjelang Muktamar 2026

Di antara sejumlah nama yang mulai diperbincangkan, tiga tokoh menonjol karena dianggap mewakili arah kepemimpinan yang berbeda: Prof. Dr. Kiai Nasaruddin Umar, Kiai Zulfa Mustofa, dan Gus Nusron Wahid.

1. Nasaruddin Umar: Figur Intelektual dengan Jejaring Struktural Negara

Nasaruddin Umar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama sejak 2024, dikenal memiliki jejaring sosial-politik yang kuat. Pengalamannya sebagai Wakil Menteri Agama (2011–2014), serta hubungan panjangnya dengan berbagai pemangku kepentingan, menjadikannya kandidat dengan modal struktural yang signifikan.

Sekitar 160 pengurus PWNU dan PCNU di Indonesia dipimpin oleh pejabat Kemenag, membuka ruang komunikasi dan sinergi yang lebih mudah jika Nasaruddin menjadi ketua umum. Informasi mengenai dukungan Presiden Prabowo yang beredar di kalangan elite juga memperkuat posisinya.

Namun, muncul pertanyaan strategis: apakah NU membutuhkan pemimpin yang bekerja dari dalam struktur negara, atau pemimpin yang lahir dari kultur organisasi sendiri?

2. Gus Nusron Wahid: Penggerak Kultural dan Negosiator Politik

Jika kepemimpinan berbasis kultural menjadi pertimbangan utama, nama Gus Nusron Wahid tampil kuat. Mantan Ketua GP Ansor ini dikenal memiliki akar yang kuat di kalangan kader muda NU dan jaringan pesantren di berbagai daerah.

Sebagai politisi Golkar yang telah lama berkecimpung di arena nasional, Nusron memiliki kemampuan negosiasi politik yang mumpuni. Ia juga disebut-sebut mendapat dukungan dari jejaring Badan Pertanahan Nasional (BPN) di sejumlah daerah.

Kombinasi antara basis kultural, kekuatan politik, dan sebagian jejaring struktural membuat Nusron dianggap sebagai figur modern yang mampu menjembatani aktivisme NU tradisional dengan dinamika politik nasional.

3. Kiai Zulfa Mustofa: Penjaga Tradisi dan Representasi Ulama Turots

Di tengah arus globalisasi dan menguatnya konservatisme dunia Islam, sebagian warga NU menilai bahwa organisasi ini membutuhkan figur yang kuat dalam tradisi ilmiah dan spiritual. Dalam konteks ini, Kiai Zulfa Mustofa mencuat sebagai kandidat yang dianggap paling representatif.

Secara intelektual, ia sejajar dengan Nasaruddin, tetapi memiliki spesialisasi mendalam dalam khazanah turots (tradisi keilmuan klasik). Dukungan dari kalangan pesantren dan sebagian struktur PBNU menjadi modal kultural yang kuat bagi Zulfa.

Berbeda dari dua kandidat lainnya, Zulfa tidak datang dengan mesin politik atau jejaring struktural negara, melainkan membawa kekuatan moral dan integritas intelektual, sesuatu yang dinilai sebagai ruh asli NU sejak didirikan.

Arah Paradigma: Negara, Politik, atau Tradisi?

Jika ketiga figur tersebut dilihat secara lebih jernih, jelas bahwa warga NU bukan hanya memilih tokoh, tetapi menentukan paradigma kepemimpinan:

  • Nasaruddin Umar → jalan struktural negara
  • Nusron Wahid → jalan politik dan kaderisasi kultural
  • Zulfa Mustofa → jalan tradisi keilmuan dan moral kultural

Pilihan ini akan menentukan arah NU dalam menghadapi tantangan masa depan, mulai dari digitalisasi keagamaan, semakin pragmatisnya politik elektoral, hingga peningkatan kesejahteraan umat melalui program ekonomi berbasis komunitas.

Tantangan Pemimpin NU di Masa Depan

Pemimpin NU berikutnya dituntut mampu menjalankan peran ganda:

  • Ulama yang memahami tradisi dan spiritualitas
  • Manajer organisasi besar
  • Komunikator publik
  • Penghubung antara pesantren dan negara

Karena itu, diskusi mengenai calon ketum tidak seharusnya terjebak pada dikotomi “struktural vs kultural”, tetapi mencari sosok yang mampu menggabungkan keduanya.

Penutup: NU Menuju Fase Baru Seratus Tahun

Pada akhirnya, baik Nasaruddin Umar, Nusron Wahid, maupun Zulfa Mustofa, semuanya adalah kader terbaik NU. Tantangan terbesar bukan hanya memilih figur, tetapi menentukan arah strategis yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar NU.

Muktamar ke-35 NU menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk meneguhkan kembali jati diri organisasi, sekaligus menyongsong abad kedua dengan arah kepemimpinan yang lebih jelas, visioner, dan berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Dikutip dari Antaranews.com