Jakarta — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa kerusakan hulu sungai dan tingginya sedimentasi menjadi salah satu pemicu utama terjadinya banjir besar di berbagai daerah. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan susur sungai sebagai rangkaian Hari Bakti ke-80 PU di Sungai Ciliwung, Jumat (21/11/2025).
Dody menjelaskan bahwa kondisi sungai di Indonesia semakin kritis akibat rendahnya kepedulian terhadap daerah aliran sungai (DAS). Tema peringatan tahun ini yang berfokus pada sungai dipilih untuk memberikan perhatian lebih terhadap risiko yang muncul bila kawasan hulu tidak dijaga.
“Kalau kita tidak perhatikan sungainya, kita biarkan hulu kita hancur, yang turun adalah sedimen, yang turun adalah lumpur. Sungainya marah, maka pada saat hujan, banjir di mana-mana,” ujar Dody.
Menurutnya, berbagai program pengerukan, normalisasi, dan rehabilitasi sungai tidak akan efektif tanpa dukungan pemerintah daerah dan masyarakat. Ia mengungkapkan hampir semua sungai yang dikunjunginya kini berwarna coklat, menandakan tingginya sedimentasi akibat kerusakan di kawasan hulu.
Dody juga mengimbau masyarakat untuk berhenti membuang sampah ke sungai serta berperan aktif menjaga lingkungan hulu.
“Rehabilitasi yang kita kerjakan tidak akan maksimal tanpa disupport pemerintah daerah dan masyarakat setempat yang ikut menjaga hulunya,” tegasnya.
Pemprov DKI Lanjutkan Normalisasi Sungai
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan terus melanjutkan program normalisasi Sungai Ciliwung. Ia menyampaikan bahwa proses pembebasan lahan sudah berjalan dan ditargetkan rampung pada awal 2026.
“Kami akan melanjutkan normalisasi Ciliwung. Pembebasan lahan dilakukan pemerintah DKI Jakarta, sementara pembangunan tanggul oleh Kementerian PU. Sinergi ini membuat kondisi sungai lebih baik,” kata Pramono.
Selain Ciliwung, Pemprov DKI juga mempercepat normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer untuk mencegah banjir berulang di kawasan Kemang dan sekitarnya.
“Kalau tidak dilakukan, maka daerah Kemang, Kemang Village, Kemcik, dan sebagainya pasti akan banjir terus-menerus. Banjirnya sudah sangat mengganggu,” ujar Pramono.
Ia memastikan sejumlah aliran sungai lain, termasuk Sungai Pesanggrahan, tetap mendapatkan perawatan khusus menghadapi potensi cuaca ekstrem hingga Februari 2026.
“Jakarta siaga terhadap segala hal yang berkaitan dengan banjir,” tambahnya. Dikutip dari RRI.co.id
