Jakarta – IPB University menyebut agronomi pendayagunaan lahan cetak sawah penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung swasembada.
Prof. Baba Barus dari IPB University menjelaskan optimalisasi lahan cetak sawah memerlukan pendekatan agronomi holistik, termasuk pemilihan varietas adaptif, pengelolaan tanah dan air, serta sistem budidaya yang sesuai kondisi setempat. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi kendala dan memberikan solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan baru.
Andi Muhammad Syakir dari Perhimpunan Agronomi Indonesia menambahkan sebagian besar lahan cetak sawah berada di kawasan suboptimal seperti lahan pasang surut, rawa lebak, dan lahan kering marginal. Teknologi agronomi adaptif seperti ameliorasi tanah, pemupukan berimbang, varietas toleran, dan pengelolaan air mikro menjadi kunci keberhasilan pemanfaatan lahan.
Prof. Budi Mulyanto menekankan sawah adalah basis produksi pertanian dan penentu swasembada, namun alih fungsi lahan dan degradasi kesuburan menjadi tantangan serius.
Plt. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menyebut pemerintah menargetkan cetak sawah seluas 225.000 hektare pada 2025. Hingga November 2025, luas lahan siap dicetak mencapai 206.999 hektare, dengan realisasi fisik 48.108 hektare. Pemerintah terus mempercepat pelaksanaan melalui penambahan alat, tenaga, dan masukan agronomis dari ahli.
Upaya ini diharapkan meningkatkan produktivitas, mendukung swasembada, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Dikutip dari Antaranews.com
