Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah cukup dalam pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (18/11/2025). Berdasarkan data RTI Business, IHSG terkoreksi 0,65 persen atau 54,95 poin ke level 8.361,92.
Pada penutupan, tercatat 418 saham turun, 230 saham naik, dan 162 saham stagnan. Tim Analis Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa sektor energi menjadi penekan utama laju indeks.
“Saham sektor energi mengalami koreksi terbesar (-2,22 persen), sementara sektor properti menjadi satu-satunya yang menguat (2,88 persen),” jelas tim analis.
Tekanan dari Bursa Global dan Pelemahan Rupiah
Menurut Phintraco, koreksi IHSG turut dipengaruhi oleh pelemahan bursa global dan regional yang memicu aksi ambil untung.
“Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi sentimen negatif bagi IHSG,” ujarnya.
Volume perdagangan hari ini mencapai 40,99 miliar lembar saham dengan 2,52 juta kali transaksi. Total nilai transaksi tercatat Rp19,72 triliun, dan kapitalisasi pasar berada di angka Rp15.311,82 triliun.
Saham Komoditas Emas Ikut Terkoreksi
Saham-saham komoditas emas juga mengalami tekanan. Phintraco menyebutkan bahwa koreksi ini dipicu oleh turunnya harga emas global serta rencana penerapan bea ekspor emas 7,5 persen hingga 15 persen pada 2026.
“Sentimen tersebut menahan laju saham-saham emas di sepanjang perdagangan hari ini,” tambahnya.
Pasar Menanti Keputusan RDG BI
Pelaku pasar kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
Di sisi lain, terjadi aliran keluar modal asing. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp320,10 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BBCA, BRPT, COIN, ANTM, dan IMPC. Dikutip dari RRI.co.id
