Nasional

Hari Raya Galungan-Kuningan: Tradisi Bali yang Dirayakan Setiap 210 Hari

Hari Raya Galungan-Kuningan: Tradisi Bali yang Dirayakan Setiap 210 Hari

Jakarta: Umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali, memiliki beragam hari suci keagamaan yang sarat makna spiritual. Salah satu perayaan penting adalah Hari Raya Galungan dan Kuningan, yang berlangsung setiap 210 hari sekali.

Perayaan ini menjadi momen sakral untuk memperkuat dharma (kebenaran) dan memperingati kemenangan dharma melawan adharma (kejahatan). Secara etimologi, kata “Galungan” berarti “bertemu” atau “bersatu”, melambangkan bersatunya kekuatan rohani dalam diri manusia untuk mencapai kemenangan kebaikan.

Makna dan Tradisi Hari Galungan

Umat Hindu meyakini bahwa pada hari Galungan, para leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan. Rangkaian perayaan Galungan dimulai dengan Penampahan Galungan, sehari sebelum hari raya utama.

Pada hari ini, umat Hindu melakukan penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian diri terhadap sifat-sifat buruk sekaligus sebagai persembahan. Tradisi ini meneguhkan kemenangan dharma atas adharma.

Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025

Perayaan Galungan pertama di tahun 2025 jatuh pada Rabu, 23 April 2025, diikuti dengan Umanis Galungan pada Kamis, 24 April 2025. Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan pada Sabtu, 3 Mei 2025. Kata “Kuningan” dipercaya berasal dari kata “kuning”, melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan.

Selain perayaan di bulan April-Mei, umat Hindu juga akan merayakan Galungan kedua pada Rabu, 19 November 2025, dan Kuningan kedua pada Sabtu, 29 November 2025.

Perayaan Galungan dan Kuningan menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk mempererat spiritualitas, memupuk nilai kebaikan, dan menghormati leluhur. Dikutip dari RRI.co.id