Jakarta – PT Elnusa Tbk (Elnusa) memproyeksikan kenaikan harga minyak dunia yang berkelanjutan akan menjadi katalis positif bagi peningkatan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi migas di Indonesia. Direktur Keuangan Elnusa, Nelwin Aldriansyah, menjelaskan bahwa harga minyak mentah jenis Brent yang kini menyentuh level 83 dolar AS per barel membuka peluang bagi penggarapan lapangan-lapangan marginal atau terpencil yang sebelumnya dinilai tidak ekonomis. Kondisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga Januari 2026 yang berada di posisi 64 dolar AS per barel.
Dalam acara buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Nelwin memaparkan bahwa biaya angkut atau lifting migas di Indonesia, terutama di area lepas pantai (offshore), tergolong cukup tinggi dibandingkan dengan wilayah Timur Tengah. Ketika harga minyak berada di bawah 60 dolar AS per barel, para pelaku industri hulu cenderung menahan diri karena nilai jual yang rendah tidak memberikan keuntungan ekonomi. Namun, dengan stabilitas harga di atas 80 dolar AS per barel, semangat investasi untuk mencari cadangan baru diprediksi akan kembali bergairah.
Peningkatan aktivitas di sektor hulu ini secara langsung akan mendongkrak kebutuhan jasa penunjang migas, mulai dari survei seismik hingga pengeboran. Nelwin meyakini tren positif ini akan berimbas pada penguatan kinerja usaha Elnusa beserta anak perusahaannya. Di sisi lain, ketegangan geopolitik global, termasuk isu penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen konsumsi minyak harian dunia, menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi harga energi di pasar internasional saat ini. Dikutip dari Antaranews.com
