Cilegon – PT Pertamina Energy Terminal resmi memulai asesmen delapan pilar Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, sebagai bagian dari inisiatif ESG tahun 2026. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat transisi energi dan mengembangkan bisnis rendah karbon pada fasilitas yang menyuplai sekitar 35 hingga 40 persen kebutuhan LPG nasional. Asesmen tersebut mencakup berbagai aspek seperti operasional, lingkungan, hingga transformasi digital guna memastikan terminal energi tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina telah memasang pembangkit listrik tenaga surya di Terminal LPG Tanjung Sekong dengan kapasitas 85,5 kilowatt peak sebagai upaya menurunkan emisi operasional. Selain energi surya, perusahaan juga melakukan diversifikasi dengan beralih dari penggunaan genset berbahan bakar fosil ke jaringan listrik nasional. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keandalan operasional sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon secara signifikan.
Lebih lanjut, Pertamina mengembangkan proyek hidrogen hijau yang bersinergi dengan panas bumi Ulubelu untuk memenuhi kebutuhan listrik operasional terminal hingga 25 persen. Proyek percontohan ini dirancang sebagai percepatan transformasi terminal energi rendah karbon melalui kolaborasi antar anak usaha. Pertamina menargetkan penyusunan peta jalan Terminal Hijau rampung pada periode 2027 hingga 2028 demi mencapai visi sebagai pengelola terminal energi terintegrasi berkelas dunia. Dikutip dari Antaranews.com
