Jakarta – Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa saat musibah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport berlangsung, area Bandara Sultan Hasanuddin terpantau memiliki awan cumulonimbus pada ketinggian 1.700 hingga 1.800 kaki. Meskipun jarak pandang mencapai sembilan kilometer dan kondisi angin serta suhu udara dinilai masih relatif stabil untuk penerbangan, keberadaan awan tebal dengan suhu puncak mencapai minus 48 derajat Celsius menunjukkan adanya kumpulan awan tinggi yang perlu diwaspadai dalam fase pendaratan.
Data dari laporan meteorologi menunjukkan bahwa cuaca di sekitar lokasi kejadian sempat mengalami hujan sesaat dengan tekanan udara yang normal. BMKG menekankan bahwa informasi mengenai sebaran awan ini sangat penting untuk memahami situasi lingkungan saat pesawat sedang melakukan pendekatan ke bandara. Analisis cuaca ini diharapkan menjadi bagian dari data pendukung untuk mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi operasional pesawat pada saat insiden terjadi di Kabupaten Maros.
Merespons kejadian tersebut, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT untuk segera melakukan investigasi menyeluruh dan transparan berbasis data teknis serta empiris. Mengingat kecelakaan ini telah menarik perhatian internasional, Lasarus menegaskan bahwa penyelidikan objektif sangat krusial sebagai bahan evaluasi untuk mencegah tragedi serupa di masa depan serta menjamin standar keselamatan transportasi udara di Indonesia. Dikutip dari RRI.co.id
